Home > Bulog Gate > Kepala Bulog Serang, Bungkam?

Kepala Bulog Serang, Bungkam?

23 April 2008

Kepala Perum Bulog Sub Divisi Regional Banten bungkam??

Tahun 2005 s/d 2006 adalah masa dimasa pergolakan di dalam tubuh Perum Bulog Sub Divisi Regional Banten (Sub Divre Banten), muncul kepermukaan. Diawali dengan bergabungannya Divisi Regional DKI Jaya yang sekaligus membawahi Perum Bulog Sub Divisi Regional Banten.
Pada masa itu (saya katakan sebagai Revolusi Perancis)  terjadi pergantian beberapa pejabat struktural di lingkungan Perum Bulog Sub Divre Banten.  Pergantian dilakukan mulai tingkat Kepala Sub Divisi Regional sampai tingkat Kepala Seksi dan seluruh staf ……. 

“Ibarat serombongan manusia ditengah padang pasir (dalam keadaan haus dan lapar) tiba-tiba mendapatkan sebuah oase ditengah padang pasir dan mereka saling berebut untuk menguasai oase tersebut”.  Begitulah yang terjadi.  Pergeseran jabatan dengan sangat mudahnya dilakukan oleh Kepada Divre DKI Jaya.  Apalagi kalau bukan bertujuan untuk menguasai oase tersebut (dalam hal ini Sub Divre Banten) yang saat itu sudah berada dibawah Divre DKI jaya.  Siapa kawan dan bisa “mencari muka” dia akan mendapatkan, siapa lawan dia pasti akan disingkirkan.  Pola itulah yang diterapkan saat itu.

Adanya penonjolan soal adu kepintaran dan adu pengalaman dimulai dalam tubuh Perum Bulog Sub Divre Banten. Terjadi perombakan besar-besaran, bahkan pada saat itu terdapat lebih kurang 16 orang tenaga honorer yang harus rela kehilangan posisinya masing-masing, baik yang terdapat di Kantor Bulog Sub Divre Banten maupun di gudang-gudang yang berjumlah 7 gudang. Sebagian besar tenaga honorer tersebut sudah mengabdi selama lebih kurang 5 tahun lebih.
Akhirnya keluarlah sebuah keputusan (yang penuh emosional) yang dikeluarkan oleh Kepala Divre DKI Jaya bahwa Perum Bulog sudah tidak sanggup lagi menggaji tenaga honorer tersebut. Selama lebih kurang 2 bulan lamanya terjadi pertentangan diantara karyawan honorer dengan Kepala Sub Divisi Regional Banten (Sentot Hariwibowo).

Sungguh sangat disayangkan masih ada pimpinan BUMN dengan pendidikan S2, tapi memiliki pikiran rendah (mungkin berpikir menggunakan pantat) telah mengeluarkan sebuah kebijakan dan keputusan seperti seorang anak kecil yang baru belajar bersekolah.  Ditambah lagi kesombongan yang diperlihatkan oleh pimpinan Bulog di Divre DKI dan Sub Divre Banten, seolah-olah Institusi Perum Bulog adalah milik pribadi mereka berdua. Sangat keterlaluan!!!  Ketika kami meminta konfirmasi dan penjelasan mengenai hal tersebut, pimpinan-pimpinan yang terhormat tersebut menghilang dari peredaran (seperti setan yang gentayangan).

KENAPA MENERIMA TENAGA HONORER LAGI?

Sejak kejadian tersebut, sampai sekarang masih tersimpan TANDA TANYA besar, ada apa gerangan?? Mengapa saat itu Kepala Divisi Regional DKI Jaya dan Kepala Sub Divre Banten mengatakan bahwa tidak sanggup menggaji tenaga honorer?  Namun pada kenyataannya beberapa bulan kemudian justru ada penerimaan untuk tenaga honorer yang jumlahnya mencapai 20 orang.  Apalagi santer terdengar kabar dan berita bahwa sebagian besar tenaga honorer tersebut adalah masih dalam lingkup keluarga besar dari pegawai/karyawan organik Perum Bulog Sub Divre Banten.   Yang lucunya, dari 16 orang yang dikeluarkan tersebut malah ada 3 orang yang diterima kembali.  Mereka tidak lain adalah anak dari pensiunan karyawan Bulog Sub Divre Banten. Ibarat menjilat ludah sendiri !!!! Sangat memalukan ….

Bapak-Bapak Pimpinan di Divre DKI Jaya dan Subdivre Banten bisa melihat kembali track record dari karyawan honorer yang telah dikeluarkan (saat itu), apakah mereka semua memiliki kasus yang mencoreng muka Perum Bulog ?  Apakah ada diantara mereka dengan terang-terangan melakukan pencurian terhadap beras (milik rakyat) setelah lebih dari 5 tahun mengabdikan diri pada Perum Bulog Sub Divre Banten.  Justru sebaliknya beberapa karyawan/tenaga honorer yang baru beberapa bulan diterima banyak yang tertangkap karena telah ikut dan bekerja sama menyelewengkan beras raskin dan telah menjual beras OPM (Operasi Pasar Murah).

Mungkin doa-doa orang ter-zhalimi lebih ampuh dari para pejabat-pejabat yang tangannya berlumuran dengan kekotoran dan keserakahan.  Atau mungkin  dari para orang-orang kecil yang ter-zhalimi telah keluar sumpah serapah buat para pejabat-pejabat tersebut.  Bisa “YA” atau “TIDAK”.

KEPALA PERUM BULOG SUB DIVISI REGIONAL BANTEN (SENTOT HARIWIBOWO) BABAK BELUR DIHAJAR DIRUANG KERJANYA …

Panasnya situasi pada saat itu (bulan September 2005) sudah tidak tertahankan lagi.  Konsentrasi kerja sudah berada pada titik “nol”.  Ibarat motivasi kami sudah berada pada posisi “zero growth”.  Mungkin hanya ada satu pilihan (hidup atau mati).  Senjata tajam (parang, badik dan pisau) dalam tas selalu siap sedia demi membela keluarga dan asap dapur mereka.  Saling curiga mencurigai dan sikap keangkuhan sudah mulai ditunjukkan terutama oleh Kepala Perum Bulog Sub Divre Banten, Sentot Hariwibowo (SH).

Beberapa tenaga honorer yang akan dikeluarkan.  Apalagi waktu itu Sentot Hariwibowo dibantu dengan konco-konconya tidak pernah mau menghargai jerih payah dan kerja keras kami selama 5 tahun lebih yang harus mengeluarkan keringat, lembur sampai pagi demi mengerjakan berbagai pekerjaan inti Perum Bulog.  Padahal semua pegawai organik hnya sekitar 40% saja yang sering masuk kerja.  Jadi kami semua tenaga honorer yang mengerjakan pekerjaan inti yang seharusnya dikerjakan oleh pegawai organik.  Mulai dari pembuatan urusan Pengadaan Gabah, Laporan-laporan, Akuntansi, Keuangan, dan lain-lain.

Kemudian secara sembunyi-sembunyi kami semua dipanggil untuk kemudian “DIPAKSA” menandatangani surat pengunduran diri dihadapan Wakil Kepala Sub Divre Banten (Hidayat Ashar).  Sudah jelas kami menolak cara-cara KOMUNIS seperti itu.  Padahal kalau mau jujur, mengapa bukan Kepala Subdivre langsung yang memanggil.  Apakah takut, atau tidak mau bertanggungjawab?  Untung saja Sentot Hariwibowo tidak sampai saya bunuh dan bantai sama tenaga honorer saat itu, dimana semuanya sudah siap mati demi mempertahankan asap dapur dan menghidupi anak dan istri kami semua yang masih berusia balita.  Mungkin saja sampai sekarang ini masih ada beberapa orang yang masih merasa sakit hati sama Sentot Hariwibowo dan siapa tahu ada yang melakukan pembalasan dendam dikemudian hari ??? Kami semua tidak tahu, yang pasti orang yang ter-zhalimi akan lebih berbuat nekat karena rejeki mereka “ditutup” oleh Sentot Hariwibowo dan konco-konconya.  Mudah-mudahan saja tidak terjadi.  Karena untuk melakukan itu bukanlah hal yang sulit.

Puncak kekesalan justru datang dari salah seorang mantan karyawan (yang sudah diberhentikan) berinitial Darlis S.  Darlis dituduh telah menjual beras raskin kepada pedagang dan pihak ketiga, namun disanggah oleh yang bersangkutan.  Padahal informasi (seorang supir pribadi bernama Fauzi) justru Sentot Hariwibowo melihat langsung proses penggantian karung beras tersebut didalam salah satu gudang penggilingan “ternama” di daerah Kab. Pandeglang, tapi yang bersangkutan malah tidak membuka mulut atau melaporkan hal tersebut kepada jajaran Manajemen Bulog di Kantor Pusat.  Entah takut atau mungkin ada kongkalikong …….. atau ingin menyelamatkan diri sendiri. Entahlah !!!!

Untuk mencari kambing hitam, akhirnya Kasubdivre menuduh Darlis yang melakukan penjualan beras tersebut.  Puncaknya tuduhan tersebut terdengar langsung oleh Darlis.  Seusai Shalat Jumat (saat itu ibu-ibu Dharma Wanita Bulog, sedang arisan dan berkumpul dikantor Perum Sub Divre Banten).  Tanpa basa-basi, tanpa permisi Darlis, langsung masuk kedalam ruang kerja Sentot.  Setibanya didalam ruangan, Darlis langsung mengunci pintu ruangan tersebut dari dalam (jadi hanya ada SH vs DR) dalam arena ruang kerja tersebut.  Melayanglah kursi besi kearah tubuh (dada dan kepala) Sentot, kemudian toples melayang kearah kepala Sentot yang berakibat tangan dan kepala langsung mengucurkan darah segar dan sesaat kemudian terkapar dilantai dalam posisi duduk terlentang sambil meringis kesakitan dengan muka pucat penuh darah.  Sambil kemudian Darlis menginjak-injak tubuh dan menendang tubuh Sentot sampai tidak berdaya karena menahan sakit.  Setelah melampiskan dendam dan sakit hatinya, Darlis dengan langkah enteng (tidak lari) meninggalkan ruangan tersebut.  Ibu-ibu Dharma Wanita yang mendengar kejadian tersebut berteriak-teriak dan beberapa karyawan heboh atas kejadian tersebut.

Sesaat kemudian Darlis, memang ditangkap dan digelandang ke Polisi.   Suasana saat itu memang panas.  Rekan-rekan semua sudah menyiapkan parang dan siap bergerak untuk melakukan perlawanan jika terusik sedikit saja.  Saat itu kami berkomitmen .. “SIAPA YANG BERSUARA DIDEPAN KAMI ATAU MENYINGGUNG KAMI, MATI ADALAH JAWABANNYA“.  Siap-siap saja (hidup atau mati, jawabannya).

Ketahuilah bahwa terjadi keanehan dalam hal ini, terutama Sentot sebagai korban mencabut pengaduannya ke Polisi meskipun dia sendiri sudah nyaris sekarat dihajar kursi dan toples kaca sampai mengeluarkan darah. Dari sini kita menelaah bahwa pencabutan pengaduan tersebut didasari bahwa :

  1. Jika Darlis bersuara di Kantor Polisi dengan mengatakan Sentot melihat dan mengetahui adanya penyelewengan Beras Raskin di Kab. Pandeglang, maka Sentot pasti akan menemui masalah baru (yakni mengetahui penyelewengan beras raskin namun tidak melaporkan ke Kantor Pusat Bulog) dan kemungkinan Sentot bisa dipanggil polisi untuk di-interogasi mengenai masalah Penyelewengan Raskin“.

Keesokan harinya Darlis sudah bebas dan kembali datang ke kantor (seolah-olah tanpa masalah).  Sedangkan Sentot Hariwibowo sudah tidak pernah muncul lagi batang hidungnya, seperti seorang pengecut yang telah men-zhalimi orang lain, tapi kemudian tidak berani bertanggungjawab setelah dihajar sampai babak belur.  Begitulah kalau manusia terlalu mementingkan kepentingan pribadi dan kelompok, dengan sasaran orang lemah dan tidak berdaya yang jadi korban.

Bukan itu saja, istri dan anak-anak tenaga honorer telah menjadi korban atas perbuatan zhalim yang telah diperbuat oleh Sentot Hariwibowo, Hidayat Ashar, Rito Angky, dan lain-lain

[Diceritakan kembali oleh Darlis S, Mei 2006]

Categories: Bulog Gate
%d bloggers like this: